Ini Jam Sepi dan Jam Ramai di Masjidil Haram, Catat Sebelum Berangkat Umrah

Siapa yang tak kenal suasana pukul lima sore di Masjidil Haram? Lautan manusia dari segala penjuru dunia bergerak bersamaan, saling berimpit di area tawaf, saling menunggu giliran di jalur sa'i. Banyak jemaah menganggap kepadatan seperti ini sebagai bagian yang tak terhindarkan dari ibadah umrah sesuatu yang harus dijalani dengan sabar, apa pun risikonya. Padahal, ada cara untuk menguranginya, dan jawabannya sesederhana memilih jam yang tepat.
Otoritas Umum untuk Perawatan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi baru-baru ini merilis panduan bagi jemaah, memetakan pola kepadatan sepanjang hari di area suci tersebut. Panduan ini bisa jadi bekal praktis agar ibadah jemaah lebih leluasa, tanpa harus berdesak-desakan yang sebenarnya bisa diatur sejak dari perencanaan.
Jam Berapa Sepi, Jam Berapa Padat?
Ada tiga kategori waktu yang perlu diketahui jemaah:
- Sepi (nyaman untuk tawaf dan sa'i): pukul 22.00 – 04.00 dini hari, dan pukul 09.00–16.00 Siang
- Sedang: pukul 05.00 – 08.00 Pagi
- Paling padat (sebaiknya dihindari kalau bisa): pukul 17.00 – 21.00 Malam
Jam paling padat biasanya terjadi seusai jemaah beristirahat siang, lalu menjelang salat magrib dan isya. Kalau ingin tawaf dan sa'i berjalan lebih lancar, jam-jam inilah yang sebaiknya dihindari.
Kenapa Ini Penting
Memilih waktu yang tepat bukan sekadar soal nyaman pribadi. Ini juga soal keselamatan bersama. Saat ribuan orang bergerak di ruang dan waktu yang sama, risiko terinjak, tersesat, atau terpisah dari rombongan jadi lebih besar. Karena itu, Otoritas Haramain mengajak jemaah untuk mengecek dulu kondisi kepadatan sebelum berangkat dari penginapan.
Bisa Dicek Lewat Aplikasi Nusuk
Jemaah tidak perlu menerka-nerka kondisi di lapangan. Otoritas setempat menyediakan layanan digital untuk memeriksa tingkat kepadatan di halaman utama Masjidil Haram beserta lantai-lantainya, juga di berbagai tingkat area sa'i. Jemaah bisa mengeceknya sebelum berangkat dari hotel maupun saat sudah berada di lokasi.
Layanan ini melengkapi aplikasi Nusuk yang sudah lebih dulu dikenal jemaah sebagai alat bantu merencanakan dan mengelola perjalanan umrah. Kabar baiknya lagi, kalau setiap jemaah mau meluangkan waktu untuk cek kepadatan sebelum berangkat, pergerakan orang jadi lebih tersebar sepanjang hari. Ujung-ujungnya, fasilitas di Masjidil Haram bisa dipakai lebih merata, dan semua orang sama-sama diuntungkan.
Apa yang Perlu Dilakukan Jemaah?
Informasi ini sebaiknya tidak berhenti sebagai berita yang lewat begitu saja. Jadikan bagian dari rencana perjalanan, sejak masih di Tanah Air:
- Susun jadwal ziarah dan ibadah sunnah dengan mempertimbangkan jam-jam sepi
- Cek kondisi kepadatan lewat layanan digital sebelum berangkat dari hotel
- Diskusikan dengan pembimbing rombongan soal waktu terbaik untuk tawaf dan sa'i
Sunnah Travel senantiasa menyusun jadwal kegiatan jemaah dengan memperhitungkan jam-jam yang lebih lengang, supaya setiap momen tawaf dan sa'i bisa dijalani dengan tenang bukan sekadar terburu-buru mengejar rombongan. Sebab ibadah yang khusyuk lahir bukan dari kebetulan, melainkan dari perencanaan yang matang.
Artikel ini disusun berdasarkan data dan pemberitaan Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH), 14 Agustus 2026, yang melansir ajel.sa.