Bimbingan Haji & Umrah Sesuai Sunnah

LOGIN

Meluruskan Kekeliruan Seputar Tawaf dan Sa’i Kategori:

Kategori : Umrah, Keutamaan, Ditulis pada : 12 Oktober 2026, 10:22:30

af6f769d1ce92fd58950eb8453c5250e.jpg
Tak jarang terlihat jemaah yang sibuk membuka buku panduan kecil di tangan sambil berjalan mengelilingi Ka’bah, mulut komat-kamit mengikuti teks doa yang berbeda untuk setiap putaran. Ada pula rombongan yang berjalan rapat sambil melafalkan zikir bersama-sama dengan suara cukup keras, dipandu satu komando dari pembimbingnya. Dua pemandangan ini begitu akrab di Masjidil Haram, sampai banyak yang menganggapnya sebagai bagian dari tuntunan tawaf itu sendiri.

Padahal, kalau ditelusuri lebih jauh, sebagian praktik ini justru tidak punya dasar yang kuat, bahkan berpotensi mengurangi kekhusyukan, baik bagi diri sendiri maupun jemaah lain di sekitarnya.

Tidak Ada Doa Khusus di Setiap Putaran

Salah satu kekeliruan yang paling sering ditemui adalah anggapan bahwa setiap putaran tawaf, dari yang pertama sampai ketujuh, punya doa khususnya masing-masing. Akibatnya, banyak jemaah merasa terbebani harus menghafal atau membaca dari buku panduan agar tidak “salah” doa di putaran tertentu.

Padahal, tidak ditemukan riwayat yang menunjukkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengkhususkan doa tertentu untuk tiap putaran tawaf. Beliau mencontohkan tawaf dengan memperbanyak zikir, doa, dan bacaan Al-Qur’an sesuai yang dikehendaki, tanpa terikat pada teks atau urutan bacaan tertentu.

Satu-satunya doa yang memang disunnahkan dibaca di titik tertentu adalah doa yang populer disebut doa “Sapu Jagat”, yaitu:

“Rabbana aatina fid-dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban naar”

Doa ini dibaca di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Di luar titik tersebut, jemaah bebas berdoa dengan bahasa dan kalimat apa saja, berzikir, atau membaca Al-Qur’an, sesuai yang paling mudah dan paling menyentuh hati masing-masing.

Dengan memahami hal ini, jemaah sebenarnya bisa lebih tenang menjalani tawaf, tanpa perlu disibukkan membolak-balik halaman buku panduan di tengah kepadatan jemaah lain.

Zikir Berjamaah dengan Suara Keras, Perlu Dipertimbangkan Ulang

Kekeliruan kedua yang juga sering ditemui adalah praktik zikir berjamaah dengan suara keras saat tawaf, biasanya dipandu satu orang yang memberi komando, lalu diikuti seluruh anggota rombongan secara bersamaan.

Dari sisi adab berzikir, para ulama menjelaskan bahwa zikir yang dianjurkan dilakukan secara perlahan dan tidak dikeraskan atau dikenal dengan istilah zikir sirr, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 205 yang menganjurkan berzikir dengan merendahkan suara. Zikir yang dikeraskan secara berjamaah, apalagi dipandu dengan komando, dinilai kurang sesuai dengan adab tersebut.

Di sisi lain, ada dampak nyata yang juga perlu diperhatikan: suara keras dari satu rombongan bisa mengganggu kekhusyukan jemaah lain yang sedang tawaf di sekitarnya, apalagi di area seramai Masjidil Haram. Padahal, menjaga kenyamanan dan kekhusyukan sesama jemaah juga menjadi bagian penting dari adab beribadah di tempat suci.

Bukan berarti zikir saat tawaf dilarang, zikir tetap dianjurkan dan menjadi bagian penting dari ibadah tawaf. Yang perlu diluruskan adalah cara melafalkannya, agar tetap tenang, tidak mengganggu, dan sesuai dengan tuntunan.

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id